TikTok Bertahan di Amerika
Kompromi Digital di Tengah Tarik-Menarik Politik Global
Setelah bertahun-tahun berada di ujung tanduk, masa depan TikTok di Amerika Serikat akhirnya menemukan titik temu. Aplikasi berbagi video pendek itu dipastikan tetap beroperasi di Negeri Paman Sam setelah tercapainya kesepakatan pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dengan kepemilikan mayoritas Amerika. Mantan Presiden AS Donald Trump bahkan secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada Presiden Cina Xi Jinping atas perannya dalam menyetujui kesepakatan tersebut.
Namun, di balik kabar “selamatnya” TikTok, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah ini benar-benar soal bisnis dan keamanan data, atau justru medan baru pertarungan politik dan propaganda digital global?
Jalan Tengah antara Larangan dan Ketergantungan
Sejak 2020, TikTok menjadi simbol kekhawatiran Amerika terhadap dominasi teknologi Cina. Pemerintah AS menuding ByteDance—perusahaan induk TikTok yang berbasis di Beijing—berpotensi menjadi saluran pengumpulan data dan pengaruh politik Cina.
Kesepakatan terbaru ini menjadi solusi kompromi:
- TikTok versi Amerika berada di bawah entitas baru dengan mayoritas kepemilikan AS
- Data pengguna Amerika disimpan dan diawasi oleh Oracle, perusahaan teknologi AS
- Algoritma rekomendasi akan dilatih ulang menggunakan data pengguna Amerika
Secara formal, TikTok tidak lagi sepenuhnya “asing”. Namun secara substansi, ByteDance masih memegang kendali atas e-commerce, periklanan, dan strategi pemasaran TikTok di AS. Artinya, hubungan struktural dengan Cina tetap ada.
Algoritma: Jantung Politik TikTok
Bagi pemerintah, masalah utama TikTok bukan sekadar data mentah, melainkan algoritma—mesin tak terlihat yang menentukan konten apa yang viral, tenggelam, atau membentuk opini publik.
Di era politik digital:
- Algoritma bisa memperbesar isu tertentu
- Menekan topik sensitif
- Atau membentuk persepsi publik secara halus namun masif
Dengan melatih ulang algoritma TikTok Amerika:
- AS berharap mengurangi potensi manipulasi asing
- Konten politik diharapkan lebih sesuai dengan standar dan kepentingan domestik
Namun para peneliti mengingatkan: algoritma bukan sekadar kode, melainkan refleksi dari:
- Tujuan bisnis
- Kepentingan pemilik
- Tekanan politik
Selama ByteDance masih terlibat, pertanyaan tentang netralitas algoritma tetap relevan.
TikTok dan Medan Propaganda Modern
TikTok telah menjadi arena baru propaganda politik global:
- Digunakan kandidat politik untuk menjangkau pemilih muda
- Dimanfaatkan aktor negara untuk menyebarkan narasi tertentu
- Menjadi medium perang informasi yang sulit dilacak
Dalam konflik internasional, isu Palestina-Israel, Ukraina, hingga pemilu Amerika, TikTok kerap dituduh:
- Membiarkan narasi tertentu viral
- Lambat menekan disinformasi
- Tidak transparan soal moderasi konten
Kesepakatan ini tidak serta-merta menghilangkan risiko propaganda, tetapi memindahkan pusat kendali lebih dekat ke Washington. Bagi AS, ini bukan sekadar menyelamatkan aplikasi populer, melainkan merebut kembali ruang pengaruh digital.
Mengapa Trump Berterima Kasih ke Xi?
Pernyataan Trump yang berterima kasih kepada Xi Jinping menggarisbawahi dimensi geopolitik kesepakatan ini. Cina sebenarnya memiliki opsi untuk:
- Melarang ekspor teknologi algoritma
- Menghambat restrukturisasi ByteDance
Keputusan untuk “tidak menghalangi” menunjukkan bahwa Cina pun memilih kompromi. TikTok terlalu bernilai—secara ekonomi dan simbolik—untuk dilepas sepenuhnya, tetapi juga terlalu sensitif untuk dipertahankan tanpa konsesi.
Preseden Global Baru
Kasus TikTok di Amerika menciptakan preseden penting:
- Negara tidak lagi hanya mengatur konten
- Tapi juga kepemilikan, data, dan algoritma
Model ini berpotensi ditiru negara lain, termasuk Eropa dan Asia:
Jika platform asing ingin bertahan, mereka harus berbagi kendali.
Di sisi lain, ini menandai awal era fragmentasi internet, di mana platform global dipaksa memiliki “versi nasional” sesuai kepentingan politik masing-masing negara.
Penutup
Kesepakatan TikTok bukan akhir dari persoalan, melainkan bab baru. TikTok tetap hidup di Amerika, tetapi dengan wajah yang lebih “Amerika”. Sementara itu, pertarungan pengaruh antara Washington dan Beijing bergeser dari pelabuhan dan chip semikonduktor ke timeline, feed, dan algoritma.
Di era ini, politik tidak lagi hanya terjadi di parlemen atau ruang diplomasi, tetapi juga di layar ponsel—15 detik demi 15 detik.


