Widget HTML #1


Solomon’s Paradox dan Hikmah Nabi Sulaiman

Ketika Psikologi Modern Bertemu Al-Qur’an

Dalam psikologi modern dikenal istilah Solomon’s Paradox: kecenderungan manusia untuk lebih bijak saat menilai masalah orang lain, tetapi kehilangan kebijaksanaan ketika menghadapi persoalan dirinya sendiri. Istilah ini merujuk pada Raja Solomon dalam tradisi Alkitab—tokoh yang masyhur karena kebijaksanaan, namun dalam kisah hidupnya digambarkan jatuh pada kesalahan moral dan spiritual.

Menariknya, ketika kita beralih ke Al-Qur’an, sosok yang sama—dikenal sebagai Nabi Sulaiman—ditampilkan dalam potret yang berbeda. Ia bukan simbol paradoks, melainkan contoh konsistensi antara ilmu, kekuasaan, dan ketundukan kepada Tuhan.

Al-Qur’an menggambarkan Nabi Sulaiman sebagai pemimpin yang diberi hikmah (kebijaksanaan) sejak muda. Dalam kisah perselisihan ladang yang dirusak kambing (QS Al-Anbiya: 78–79), Allah menegaskan bahwa Sulaiman diberi pemahaman hukum yang lebih tepat, meski ayahnya Nabi Dawud juga seorang hakim yang bijaksana. Ini bukan sekadar kecerdasan hukum, tetapi kemampuan melihat masalah secara adil tanpa dikaburkan emosi atau kepentingan diri.

Dalam kisah semut (QS An-Naml: 18–19), Sulaiman tidak tertawa karena merasa lebih kuat, melainkan tersenyum lalu berdoa agar selalu bersyukur. Kekuasaan tidak membuatnya lupa diri, justru memperdalam kesadaran etisnya. Bahkan ketika berhadapan dengan Ratu Balqis, dialog dilakukan secara strategis dan bermartabat, bukan dengan paksaan atau nafsu dominasi.

Di sinilah perbedaan mendasar dengan konsep Solomon’s Paradox. Psikologi modern menyoroti kelemahan manusia: emosi pribadi sering mengaburkan kebijaksanaan. Seseorang bisa rasional saat menjadi penonton, tetapi bias saat menjadi pelaku. Al-Qur’an, sebaliknya, menampilkan Nabi Sulaiman sebagai figur yang berhasil menjaga jarak emosional terhadap dirinya sendiri melalui iman dan kesadaran ilahi.

Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak mengenal “paradoks kebijaksanaan” pada diri Nabi Sulaiman. Yang ada justru pesan bahwa hikmah sejati lahir dari keseimbangan antara akal dan spiritualitas. Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menekankan bahwa kisah-kisah Sulaiman bukan sekadar cerita mukjizat, tetapi pendidikan moral tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dikendalikan oleh rasa syukur dan tanggung jawab.

Bagi manusia modern, Solomon’s Paradox adalah cermin psikologis: kita sering pandai menasihati, tetapi gagal menasihati diri sendiri. Sementara kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an adalah arah kompas: kebijaksanaan harus dimulai dari pengendalian diri, bukan hanya dari kecerdasan berpikir.

Jika Solomon’s Paradox mengingatkan bahwa manusia mudah terjebak emosi, maka hikmah Nabi Sulaiman mengajarkan bahwa kebijaksanaan sejati bukan sekadar kemampuan memberi solusi, melainkan kemampuan menundukkan ego. Di titik inilah psikologi modern dan pesan Qur’ani bertemu: jarak dari ego adalah syarat utama lahirnya kebijaksanaan.