Widget HTML #1


Menang dengan Diam

Imam Syafi’i pernah berkata, “Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi.” Kalimat ini lahir dari tradisi intelektual yang menghargai ilmu sekaligus adab. Ia bukan seruan untuk anti-rasio, melainkan kritik terhadap debat yang kehilangan tujuan epistemologisnya: mencari kebenaran.

Dalam filsafat klasik, dialog—seperti pada Socrates—berfungsi untuk menyingkap ketidaktahuan menuju pengetahuan. Namun dialog berubah menjadi retorika kosong ketika lawan bicara tidak lagi ingin memahami, melainkan menguasai. Di titik inilah perdebatan menjelma menjadi konflik ego. Imam Syafi’i menempatkan diam sebagai bentuk resistensi moral: menolak ikut dalam permainan yang aturannya sudah rusak sejak awal.

Diam, dalam konteks ini, bukan kekalahan, tetapi strategi menjaga martabat akal. Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa kebisingan opini dapat menenggelamkan makna berpikir. Di ruang publik yang dipenuhi suara, keputusan untuk tidak berbicara justru menjadi tindakan politis: menyaring mana yang layak dijawab, mana yang sebaiknya dibiarkan padam oleh ketidakpedulian.

Media sosial hari ini adalah arena yang sempurna bagi “debat orang bodoh” dalam pengertian Imam Syafi’i: cepat, emosional, dan miskin refleksi. Setiap isu diperas menjadi konflik, setiap perbedaan menjadi permusuhan. Di sini, diam bukan berarti menyerah pada kebodohan, tetapi menghindari reproduksinya. Sebab kebodohan, seperti api, hidup dari oksigen perhatian.

Namun bahaya diam juga mengintai: ia bisa berubah menjadi pembiaran terhadap ketidakadilan. Karena itu, hikmah Imam Syafi’i perlu dibaca secara kontekstual. Diam dianjurkan ketika debat tidak lagi membuka kemungkinan kebenaran. Tetapi berbicara menjadi kewajiban moral ketika kezaliman disamarkan sebagai pendapat.

Di tengah banjir kata dan opini, kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan memilih: kapan berbicara, kapan berhenti. Barangkali itulah makna terdalam dari kalimat Imam Syafi’i—bahwa akal bukan hanya soal menyusun argumen, melainkan juga soal menahan diri. Dalam dunia yang gemar berisik, diam bisa menjadi bentuk paling sunyi dari keberanian intelektual.