Widget HTML #1


Ketika Prioritas Perusahaan Berubah Tanpa Kata

Pelajaran Teamwork dari Jony Ive hingga Sheryl Sandberg

Perubahan arah strategi adalah keniscayaan dalam organisasi. Namun, cara perubahan itu dikomunikasikan menentukan apakah ia menjadi energi pembaruan atau sumber konflik. Sejumlah kisah tokoh besar dunia teknologi dan bisnis menunjukkan satu benang merah: ketika prioritas organisasi berubah tanpa transparansi, talenta terbaik justru pergi.

Di Apple, Jony Ive dikenal sebagai arsitek estetika produk yang mengubah wajah industri teknologi. Ia merancang iMac G3, iPod, iPhone, iPad, MacBook Air, hingga pembaruan besar iOS 7. Steve Jobs memberi Ive kepercayaan penuh karena desain dianggap jantung inovasi Apple.

Namun setelah Jobs wafat pada 2011, orientasi Apple perlahan bergeser. Di bawah Tim Cook, perusahaan menekankan efisiensi rantai pasok, ekspansi pasar global, dan skala produksi massal. Desain tetap penting, tetapi tidak lagi menjadi pusat gravitasi strategis seperti sebelumnya. Perubahan ini tidak diumumkan secara eksplisit sebagai reposisi internal. Pengaruh Ive menyusut secara bertahap.

Pada 2019, Ive memilih hengkang dan mendirikan perusahaan desain LoveFrom serta startup perangkat AI bernama io. Pada 2024–2025, OpenAI mengakuisisi startup tersebut dengan nilai sekitar US$6,5 miliar dalam bentuk saham. Ive kini menjadi mitra strategis Sam Altman dalam pengembangan perangkat berbasis kecerdasan buatan. Perpindahan ini menunjukkan bagaimana perubahan iklim organisasi dapat mendorong talenta kunci mencari ruang baru yang lebih sejalan dengan visinya.

Kisah serupa terjadi di Meta. Sheryl Sandberg, tangan kanan Mark Zuckerberg selama lebih dari satu dekade, berperan penting membangun model bisnis Facebook sekaligus mengelola krisis besar seperti skandal Cambridge Analytica. Namun ketika Zuckerberg mengubah arah perusahaan menjadi “Metaverse Company”, peran Sandberg tak lagi sejalan dengan visi baru tersebut.

Sandberg mengumumkan pengunduran dirinya pada 2022. Meski tetap menjaga hubungan baik dengan Zuckerberg, keputusan itu mencerminkan ketidakselarasan strategis. Investasi besar Meta di metaverse kemudian terbukti tidak membuahkan hasil signifikan, dengan kerugian puluhan miliar dolar dan fokus perusahaan yang kini kembali ke kecerdasan buatan.

Di luar sektor teknologi, kisah Michael Bloomberg memperlihatkan pola yang sama. Ia adalah mitra utama di Salomon Brothers hingga perusahaan itu diakuisisi pada 1981. Perannya menjadi tidak jelas, dan ia akhirnya dilepas dengan pesangon sekitar US$10 juta. Dari dana tersebut, Bloomberg mendirikan Bloomberg LP, perusahaan penyedia data keuangan yang kini mendunia. Kekayaannya saat ini diperkirakan melampaui US$100 miliar, sementara Salomon Brothers akhirnya dilebur ke dalam Citigroup.

Ketiga kisah ini tidak semata tentang individu yang “disingkirkan”. Mereka menyoroti kegagalan organisasi dalam mengelola transisi prioritas secara terbuka dan manusiawi. Dalam teori manajemen modern, perubahan strategis menuntut komunikasi yang jelas kepada seluruh lapisan tim. Prinsip change management menekankan pentingnya keterlibatan sejak awal agar anggota organisasi dapat menyesuaikan peran dan kompetensinya.

Ketiadaan kejelasan sering melahirkan rasa terpinggirkan. Steve Jobs pernah mengatakan bahwa karyawan yang pergi dalam keadaan sakit hati membawa energi destruktif setara “bom termonuklir”. Ungkapan itu menggambarkan bagaimana konflik emosional dapat berubah menjadi kompetisi bisnis di masa depan.

Transparansi bukan hanya soal etika, tetapi juga keberlanjutan organisasi. Tim berhak mengetahui ketika arah perusahaan berubah: apakah desain tak lagi menjadi prioritas, apakah fokus bergeser ke teknologi baru, atau apakah restrukturisasi akan terjadi. Dengan kejelasan tersebut, individu dapat memilih beradaptasi, meningkatkan keterampilan, atau mengambil jalan keluar secara terhormat.

Kutipan Stuart Milk, “We are less when we don’t include everyone,” relevan dalam konteks ini. Organisasi yang tidak melibatkan tim dalam perubahan besar berisiko kehilangan modal intelektual terpentingnya: kepercayaan.

Pelajaran dari Apple, Meta, dan Bloomberg LP menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh strategi, tetapi oleh cara strategi itu dijalankan bersama manusia di dalamnya. Perubahan yang diam-diam sering melahirkan luka yang tidak perlu. Sebaliknya, perubahan yang dijelaskan dengan jujur memberi ruang bagi adaptasi, bahkan jika akhirnya harus berpisah jalan.

Dalam dunia kerja modern, teamwork bukan sekadar kolaborasi teknis. Ia adalah kesepakatan moral bahwa setiap perubahan besar layak dibicarakan secara terbuka. Karena organisasi yang besar bukan hanya yang mampu berubah cepat, tetapi yang mampu berubah tanpa kehilangan orang-orang terbaiknya.