Bismillah di Tengah Ketidakpastian
Di negeri yang akrab dengan gempa, banjir, dan harga yang naik-turun seperti ombak, orang Indonesia punya satu kalimat penyangga batin: “Bismillah, semoga ini baik insya Allah.” Kalimat itu meluncur pelan dari bibir para pedagang, mahasiswa, pejabat, hingga orang tua yang melepas anaknya merantau. Ia sederhana, tapi sarat muatan teologis dan psikologis.
Secara bahasa, bismillah berarti “dengan nama Allah”, sementara insya Allah bermakna “jika Allah menghendaki”. Di antara dua frasa itu terjepit harapan manusia: semoga apa yang dihadapi berujung kebaikan. Bukan janji keberhasilan, melainkan pengakuan keterbatasan.
Ungkapan ini adalah bentuk tawakal modern: sebuah kesadaran bahwa manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhan memutuskan. Dalam Al-Qur’an, prinsip ini ditegaskan berulang kali—bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Maka kalimat tersebut menjadi semacam rem spiritual ketika nalar mulai goyah oleh ketidakpastian.
Psikolog melihat kalimat ini sebagai mekanisme coping religius. Ia bekerja seperti jangkar. Saat seseorang gagal ujian, kehilangan pekerjaan, atau memulai usaha dengan modal pas-pasan, ucapan itu menurunkan tekanan batin. Harapan tidak diletakkan pada hasil semata, melainkan pada makna di balik hasil. Gagal bukan akhir, melainkan bagian dari skenario ilahi yang belum terbaca.
Lebih dalam lagi, ungkapan ini berkaitan erat dengan etika niat. Nabi Muhammad menegaskan bahwa nilai sebuah amal ditentukan oleh niatnya. Maka “semoga ini baik” bukan hanya doa atas hasil, tetapi pernyataan bahwa langkah yang diambil dimulai dengan kehendak untuk berbuat benar. Di sini agama tidak berdiri sebagai dogma kaku, melainkan sebagai kompas moral.
Menariknya, kalimat ini sering muncul justru saat seseorang berada di persimpangan sulit: sebelum operasi, sebelum sidang, sebelum keputusan besar. Ia menjadi jembatan antara logika dan iman. Antara ikhtiar dan pasrah. Seolah manusia berkata: aku sudah berusaha, sisanya bukan wilayahku.
Di tengah budaya serba pasti—grafik, target, dan KPI—kalimat ini mengingatkan bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dihitung. Ada wilayah misteri yang hanya bisa dihadapi dengan keyakinan. Bukan fatalisme, melainkan kesadaran bahwa manusia bukan pusat semesta.
Pada akhirnya, “Bismillah, semoga ini baik insya Allah” adalah bahasa spiritual bagi mereka yang berjalan dalam kabut. Ia tidak menjanjikan jalan lurus, tapi menjanjikan makna. Dan mungkin di situlah kekuatannya: bukan menghapus masalah, tetapi memberi cara untuk menanggungnya dengan kepala tegak dan hati lapang.


