Akar yang Tak Terlihat
Di dinding ruang rapat banyak organisasi, pertumbuhan selalu digambar sebagai grafik yang menanjak: omzet, jumlah proyek, ekspansi wilayah, atau valuasi. Semua menunjuk ke atas. Seolah-olah organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus membesar secara kasatmata.
Namun sebuah ilustrasi sederhana tentang tanaman justru mengingatkan kita pada hal yang sering dilupakan: ada pertumbuhan yang tidak naik ke atas, tetapi masuk ke dalam tanah. Akar menguat, tak terlihat, tapi menentukan apakah batang akan tegak atau tumbang.
Dalam organisasi, pertumbuhan semacam ini sering tak masuk laporan kinerja. Ia tidak tampil di presentasi PowerPoint. Tidak bisa difoto untuk media sosial. Tapi justru di situlah nasib jangka panjang organisasi dipertaruhkan.
Kita menyebutnya budaya kerja, kepercayaan, etika, dan kematangan kepemimpinan.
Banyak organisasi hari ini sibuk memoles daun dan bunga: mengejar target kuartalan, memperluas pasar, menambah unit kerja. Tetapi di dalamnya, konflik antarbagian dibiarkan, komunikasi tersumbat, dan keputusan diambil tanpa transparansi. Organisasi tampak besar, namun rapuh. Sedikit guncangan—krisis ekonomi, perubahan regulasi, atau pergantian pimpinan—cukup untuk merontokkan kepercayaan yang selama ini ditutupi oleh angka-angka kinerja.
Sebaliknya, ada organisasi yang terlihat “biasa-biasa saja”. Tidak agresif berekspansi. Lebih sering menghabiskan waktu untuk evaluasi internal, pelatihan, dan memperbaiki proses kerja. Dari luar tampak lambat. Dari dalam, sebenarnya sedang menumbuhkan akar.
Akar itu berupa ruang aman untuk berbeda pendapat, sistem yang adil dalam menilai kinerja, dan kepemimpinan yang tidak hanya memerintah, tetapi mendengar. Organisasi seperti ini mungkin tidak segera berbunga, tetapi ketika badai datang, ia tidak mudah tumbang.
Paradoksnya, era modern justru mendorong organisasi untuk mengejar pertumbuhan yang instan dan terlihat. Media sosial, laporan tahunan, dan kompetisi antar-lembaga membuat keberhasilan diukur dari apa yang bisa dipamerkan. Padahal yang paling menentukan sering justru yang tak terlihat: apakah orang-orang di dalam organisasi saling percaya, apakah keputusan diambil dengan akal sehat, dan apakah kegagalan dijadikan pelajaran, bukan alat saling menyalahkan.
Dalam jangka pendek, bunga memang memikat mata. Dalam jangka panjang, akar yang menentukan umur tanaman.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara membaca pertumbuhan organisasi. Bukan hanya bertanya: seberapa besar kita sekarang? tetapi juga: seberapa dalam akar kita menancap?
Karena organisasi yang hanya tumbuh ke atas akan cepat dikenal. Tetapi organisasi yang tumbuh ke dalam akan lama bertahan.
Dan dalam dunia yang penuh guncangan, bertahan sering kali lebih penting daripada sekadar terlihat maju.


