Syiah Bukan Islam, jargon adu domba politik
Narasi “Syiah Bukan Islam” dalam Perspektif Sejarah dan Sosiologi Politik: Antara Perbedaan Mazhab dan Politik Adu Domba.
Abstrak
Perdebatan mengenai status keislaman mazhab Syiah sering muncul di berbagai negara Muslim. Salah satu jargon yang sering digunakan adalah “Syiah bukan Islam”. Artikel ini bertujuan menjelaskan secara ilmiah bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah pada dasarnya merupakan perbedaan mazhab dalam Islam, bukan perbedaan agama. Dengan pendekatan sejarah, teologi, dan geopolitik, artikel ini menunjukkan bahwa narasi eksklusi tersebut sering dimanfaatkan dalam konflik politik dan strategi pecah belah (divide and rule). Kajian ini juga menekankan pentingnya kesadaran umat Islam terhadap upaya adu domba yang dapat melemahkan solidaritas internal umat.
Pendahuluan
Islam sejak awal sejarahnya memiliki keragaman interpretasi dan mazhab. Perbedaan tersebut muncul dari proses ijtihad ulama dalam memahami sumber utama agama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Dua komunitas terbesar dalam Islam adalah Sunni dan Syiah.
Namun dalam beberapa dekade terakhir muncul narasi ekstrem yang menyatakan bahwa Syiah bukan bagian dari Islam. Narasi ini sering tersebar melalui propaganda politik, konflik sektarian, dan media sosial. Padahal, secara akademik dan historis, mayoritas ulama dan lembaga keilmuan Islam mengakui bahwa Syiah merupakan salah satu mazhab dalam Islam.
Asal Usul Perbedaan Sunni dan Syiah
Perbedaan antara Sunni dan Syiah bermula dari persoalan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Perdebatan saat itu berkaitan dengan siapa yang paling berhak memimpin komunitas Muslim.
Kelompok yang kemudian dikenal sebagai Sunni menerima kepemimpinan para khalifah yang dipilih melalui mekanisme musyawarah. Sementara kelompok yang kemudian disebut Syiah meyakini bahwa kepemimpinan seharusnya berada pada keluarga Nabi, khususnya melalui jalur .
Perbedaan tersebut kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis dan fikih, tetapi keduanya tetap berada dalam kerangka akidah Islam yang sama, seperti:
- keimanan kepada Allah
- pengakuan terhadap kenabian
- keyakinan terhadap Al-Qur’an sebagai kitab suci
Dengan demikian, secara teologis keduanya memiliki fondasi akidah yang sama.
Pengakuan Mazhab dalam Tradisi Keilmuan Islam
Dalam sejarah intelektual Islam, para ulama besar sering mengakui keberadaan berbagai mazhab sebagai bagian dari keragaman ijtihad.
Salah satu contoh penting adalah fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga keilmuan di pada tahun 1959. Fatwa tersebut diprakarsai oleh yang menyatakan bahwa mazhab Ja'fari (Syiah Imamiyah) merupakan mazhab fikih yang sah dalam Islam, sama seperti mazhab Sunni.
Fatwa ini menjadi salah satu referensi penting dalam dialog Sunni–Syiah modern.
Dimensi Politik dan Geopolitik
Dalam konteks politik modern, konflik antara kelompok Sunni dan Syiah seringkali tidak hanya berkaitan dengan teologi, tetapi juga dengan rivalitas geopolitik.
Misalnya persaingan regional antara:
- IRAN
- Arab Saudi
Rivalitas politik tersebut kadang memanfaatkan identitas mazhab untuk memperkuat dukungan politik. Dalam situasi seperti ini, narasi eksklusif seperti “Syiah bukan Islam” dapat berfungsi sebagai alat mobilisasi massa.
Selain itu, beberapa analis juga mengaitkan konflik sektarian dengan strategi kolonial masa lalu yang dikenal sebagai divide and rule, yang digunakan oleh kekuatan seperti untuk mengelola wilayah yang beragam secara etnis dan agama.
Dampak Narasi Eksklusif terhadap Persatuan Umat
Narasi yang mengkafirkan kelompok Muslim lain memiliki dampak serius, antara lain:
- memperdalam konflik sektarian
- melemahkan solidaritas umat Islam
- mengalihkan perhatian dari masalah sosial dan politik yang lebih besar
- memicu kekerasan atas nama agama
Dalam perspektif sosiologi agama, konflik sektarian sering muncul bukan karena perbedaan teologi semata, tetapi karena manipulasi identitas dalam konteks politik.
Perspektif Persatuan dalam Tradisi Islam
Banyak ulama menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Islam meskipun terdapat perbedaan mazhab. Al-Qur’an sendiri menekankan pentingnya persatuan dan larangan perpecahan di antara umat.
Dalam tafsir karya seperti , konsep persatuan umat dijelaskan sebagai prinsip penting dalam kehidupan Islam. Perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutuskan persaudaraan keimanan.
Kesimpulan
Perbedaan antara Sunni dan Syiah merupakan bagian dari dinamika sejarah dan intelektual dalam Islam. Secara teologis, keduanya memiliki fondasi keimanan yang sama terhadap Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an.
Narasi yang menyatakan bahwa “Syiah bukan Islam” sering kali lebih berkaitan dengan konflik politik dan propaganda sektarian daripada kajian keilmuan Islam yang objektif.
Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami sejarah dan keragaman mazhab secara ilmiah agar tidak mudah terjebak dalam narasi adu domba yang dapat merusak persatuan umat.


