Mengenal Ali Khamenei
AS Gagal Membujuk Paket Miliaran Dolar Ke Iran
Lalu, mereka berhadapan dengan Ali Khamenei. Dan mereka bingung setengah mati kenapa sanksi ekonomi berjilid-jilid, ancaman militer, dan tawaran diplomasi triliunan dolar mental begitu saja kayak kerikil dilempar ke dinding tank.
Kenapa? Karena Khamenei teguh pendirian?. Dia nggak pernah belajar politik dari buku teori. Dia belajar anatomi kekuasaan, pengkhianatan, dan cara bertahan hidup dari institusi pendidikan paling kejam di dunia: Universitas Jalanan dan Sel Penjara Berdarah.
Imam Syiah ini punya strategic patience yang mematikan dan sama sekali nggak punya ruang di otaknya untuk percaya sama janji manis Barat. Kita harus mundur ke masa lalunya. Bau amis darah di ruang interogasi, dan harus mendengar suara ledakan yang merobek saraf tangannya adalah masa lalunya, dati tahanan politik, penjaran yang menciptakan Frankestein produk CIA Bernama SAVAK
Mundur ke tahun 1960-an dan 1970-an. Jauh sebelum revolusi pecah, Iran itu adalah "anak emas" kebanggaan Amerika Serikat di Timur Tengah. Pemimpinnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, adalah diktator flamboyan yang hobi main ski di Swiss, ngoleksi mobil sport mewah, dan menggelar pesta triliunan rupiah di reruntuhan Persepolis, sementara rakyat jelata di pinggiran Teheran mati kelaparan dan makan roti keras.
Untuk melindungi kekuasaan absolutnya dan memastikan minyak terus mengalir murah ke Barat, Shah dibantu oleh CIA dan Mossad untuk mendirikan sebuah organisasi intelijen domestik yang sangat brutal bernama SAVAK. SAVAK itu bukan sekadar polisi rahasia. Mereka itu mesin teror. Kalau ada berani ngritik Shah di warung kopi, besoknya hilang.
Di penjara-penjara rahasia macam Komite Gabungan Anti-Sabotase di Teheran, SAVAK mempraktikkan metode penyiksaan yang bikin preman paling sadis sekalipun bakal kencing di celana. Mereka nyabut kuku tahanan hidup-hidup, nyetrum alat kelamin, sampai memanggang orang di atas ranjang besi panas. Dan tebak siapa yang training agen-agen SAVAK ini? CIA. Ya, agen intelijen dari negara yang hari ini paling berisik ceramah soal "Hak Asasi Manusia".
Di sinilah Khamenei muda "ditempa".Sebagai seorang ulama muda yang kritis dan pengikut setia Ayatollah Ruhollah Khomeini, Khamenei adalah target operasi. Dia bukan tokoh yang duduk manis di belakang meja nyuruh orang lain demo. Dia turun ke jalan, ngorganisir massa bawah tanah, dan mendistribusikan selebaran anti-pemerintah.
Hasilnya? Antara tahun 1962 sampai 1975, Khamenei ditangkap dan dijebloskan ke penjara SAVAK sebanyak enam kali. Ya, Enam kali., tidak ada nyali jera. Bayangkan rasanya dilempar ke sel isolasi berukuran 1x2 meter yang lembab, gelap, dan bau pesing berbulan-bulan. Nggak ada cahaya matahari. Nggak tahu kapan siang, kapan malam.
Di satu momen, agen-agen SAVAK mencukur paksa janggutnya—sebuah penghinaan psikologis yang sangat fatal bagi seorang ulama Syiah. Dia dipukuli, diinterogasi berjam-jam tanpa henti, dan dipaksa mendengarkan jeritan tahanan lain yang sedang disiksa di ruangan sebelah.
Di titik inilah furqan (pembeda) dalam otaknya terbentuk secara permanen. Rasa sakit fisik dan isolasi itu nggak menghancurkan mentalnya; sebaliknya, itu membakar habis semua kenaifan di dalam dirinya.
Di dalam sel penjara yang sedingin es itu, Khamenei belajar satu pelajaran geopolitik yang nggak akan pernah diajarkan di Oxford: Barat itu munafik. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Amerika dan Inggris berteriak soal kebebasan dan demokrasi di PBB, tapi di saat yang sama, mereka menyuplai alat setrum dan melatih algojo SAVAK untuk menyiksa rakyat Iran.
Sejak saat itu, di mata Khamenei, dokumen diplomasi, resolusi PBB, dan janji-janji kedutaan Barat harganya lebih murah dari tisu toilet bekas. Barat cuma mengerti satu bahasa: Kekuatan. Kalau bangsa lemah, bangsa itu bakal diinjak dan disiksa. Kalau melawan dan punya senjata, mereka baru mau duduk di meja perundingan.
Ini adalah mentalitas survivor. Mentalitas orang yang udah make peace with death (berdamai dengan kematian).
Ketika politisi Barat di Capitol Hill mencoba menggertak Khamenei dengan ancaman, "Kami akan menghancurkan ekonomi kalian!", Khamenei mungkin cuma senyum sinis di dalam hatinya. Dia pernah kehilangan segalanya, dia pernah ditelanjangi kehormatannya di ruang interogasi, dia pernah menatap wajah malaikat maut enam kali. Gertakan politisi berjas mahal yang takut kehilangan kursi di pemilu depan nggak akan pernah bisa mengintimidasi pria yang pernah tidur di atas lantai beton penjara SAVAK.
27 Juni 1981: Hadiah Bom di Dalam Tape Recorder
Revolusi 1979 akhirnya meledak. Shah Pahlavi kabur bawa harta rampasan, dan Republik Islam berdiri. Kebanyakan orang mikir, "Ah, happy ending. Khamenei sekarang berkuasa, duduk di kursi empuk."
Bullshit. Tahun-tahun pertama setelah revolusi itu justru masa yang paling berdarah. Iran dikeroyok dari luar (Perang Iran-Irak yang didukung AS) dan digerogoti dari dalam. Kelompok oposisi kiri radikal bernama MEK (Mujahidin-e Khalq) melancarkan kampanye terorisme pembunuhan massal. Mereka ngebom kantor pemerintah, membantai puluhan menteri, presiden, dan anggota parlemen Iran. Negara itu berada di ambang kolaps total.
Lalu tibalah tanggal 27 Juni 1981.
Hari itu, Khamenei yang sudah menjadi salah satu tokoh penting di pemerintahan, sedang memberikan ceramah di Masjid Abu Dhar di Teheran selatan. Suasananya santai. Dia duduk di tanah, dikelilingi jamaah yang bertanya jawab setelah salat Dzuhur. Di depannya, ada sebuah tape recorder (perekam kaset) tua yang biasa dipakai wartawan atau panitia untuk merekam suaranya.
Khamenei sedang asyik menjelaskan sebuah poin. Tangannya bergerak-gerak menjelaskan. Lalu, tiba-tiba...
BOOM!
Tape recorder itu meledak tepat di depan dadanya. MEK telah menyusupkan bom C4 ke dalam alat perekam tersebut.
Kekuatan ledakan itu melempar tubuh Khamenei ke belakang. Darah muncrat membasahi jubah dan dinding masjid. Potongan logam dan serpihan bom merobek dada, leher, dan lengan kanannya. Paru-parunya kolaps. Saraf di lengan kanannya hancur total. Pita suaranya nyaris putus. Jamaah panik berteriak, mengira sang ulama sudah mati di tempat.
Dia dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Operasi darurat dilakukan berjam-jam. Jantungnya sempat berhenti. Secara medis, dia seharusnya mati hari itu.
Tapi, seperti yang gue bilang, pria ini adalah kecoa geopolitik dalam artian yang paling mematikan. Dia survivor murni. Dia bangun dari koma beberapa hari kemudian.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Tangan kanannya lumpuh permanen, kehilangan fungsi motoriknya sama sekali. Sampai hari ini, kalau lo lihat video Khamenei lagi pidato atau salaman, dia selalu pakai tangan kiri. Tangan kanannya kaku, sering disembunyikan di balik jubah atau diletakkan diam di atas paha. Suaranya pun berubah menjadi lebih berat dan serak karena kerusakan pita suara.
Monumen Peringatan Berjalan
Coba posisikan diri kita di dalam kepala Khamenei saat dia baru sadar dari koma dan melihat tangan kanannya mati rasa untuk selamanya.
Ini adalah momen breaking point (titik patah) yang mengubah seorang ulama politis menjadi seorang arsitek kekuasaan yang berdarah dingin. Tangan kanan yang kaku itu bukan sekadar cacat fisik. Tangan itu adalah monumen peringatan seumur hidup yang selalu dia bawa ke mana-mana. Sebuah alarm reminder biologis yang terus berteriak di otaknya setiap detik: "Musuhmu tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah bernegosiasi, sampai tubuhmu hancur berkeping-keping."
Orang Barat sering mengeluh kenapa Iran sangat obsesif membangun milisi proksi di Lebanon dan Yaman, atau kenapa mereka mati-matian bikin rudal balistik. Jawabannya ada pada lengan kanan Khamenei yang lumpuh itu.
Dia tahu bahwa dunia ini tidak digerakkan oleh niat baik atau hukum internasional. MEK—kelompok yang mengebomnya itu—tahu-tahu bertahun-tahun kemudian malah dilindungi oleh negara-negara Barat, bahkan dicabut dari daftar organisasi teroris oleh Amerika Serikat demi dipakai sebagai pion untuk melawan Teheran.
Melihat kemunafikan gila macam itu, wajar kalau Khamenei mencoret kata "Percaya" dari kamus otaknya. Dia membangun doktrin pertahanan Iran dengan asumsi dasar yang sangat pesimistis namun realistis: Semua orang di luar perbatasan adalah serigala yang siap menerkam, dan satu-satunya cara untuk tidak dimakan adalah dengan memelihara anjing-anjing herder yang lebih buas di halaman rumah musuh.
Kenapa Dolar Nggak Mempan?
Sekarang kita paham kan kenapa pendekatan diplomatik ala politisi Barat (atau politisi korup) nggak bakal pernah mempan ke dia?
Bayangin utusan diplomatik Eropa atau Amerika datang nawarin paket pencabutan sanksi bernilai ratusan miliar dolar asalkan Iran mau melucuti program rudalnya. Bagi politisi biasa yang motifnya cuma numpuk harta di luar negeri atau ngamanin tujuh turunan, tawaran triliunan dolar itu adalah tiket ke surga. Mereka bakal langsung tanda tangan, jual aset negara, lalu bikin konferensi pers sambil senyum palsu ke kamera bilang ini "demi perdamaian".
Tapi barat nggak bisa nyogok Khamenei dengan duit atau kemewahan.
Mau di sogok pakai apa? Dia tinggal di rumah yang sangat sederhana. Karpet di ruang tamunya usang. Dia nggak punya rekening gendut di Swiss Bank buat diancam dibekukan. Dia nggak punya aset properti di London. Dia nggak mabuk kekayaan, karena buat orang yang pernah nunggu giliran dieksekusi di penjara bawah tanah dan dadanya pernah dibelah oleh bom, duit kertas itu nggak ada harganya.
Kekuasaan bagi Khamenei bukan tentang menikmati fasilitas VIP, dihormati pakai voorijder, atau nyari cuan dari proyek pemerintah. Kekuasaan baginya adalah alat bertahan hidup (survival tool) yang mutlak. Kekuasaan adalah satu-satunya perisai yang mencegah dirinya dan negaranya kembali dilempar ke sel gelap untuk disiksa oleh agen-agen asing.
Itulah yang bikin Washington frustrasi setengah mati. Mereka berhadapan dengan The Unbribable System (Sistem yang Tidak Bisa Disuap). CIA dan Mossad terbiasa membeli pejabat korup di seluruh dunia untuk dijadikan agen ganda. Tapi gimana cara lo membeli kesetiaan dari seorang pemimpin tertinggi yang tidak takut miskin, tidak takut sakit, dan menganggap kematian (syahid) sebagai exit plan yang mulia?
Mentalitas survivor inilah yang melahirkan kebijakan Strategic Patience. Khamenei tidak reaktif karena dia tahu bahwa penderitaan itu sementara. Dia pernah menunggu bertahun-tahun di dalam penjara Shah sampai akhirnya rezim itu runtuh sendiri dari dalam. Dia mengaplikasikan ilmu "menunggu dalam diam" itu ke level negara. Dia membiarkan Amerika menghambur-hamburkan triliunan dolar di Irak dan Afghanistan sampai bangkrut dan kelelahan sendiri, sementara Iran cuma ngirim intelijen dan duit receh buat milisi proksi untuk bikin tentara AS babak belur.
Lulusan Universitas Jalanan ini sedang mengajari para sarjana Ilmu Politik Ivy League bagaimana cara memenangkan peperangan tanpa perlu mendeklarasikannya. Tapi, punya mentalitas baja aja nggak cukup buat ngatur negara segede dan sekompleks Iran. Lo bisa aja kebal peluru dan nggak doyan duit, tapi kalau lo nggak tahu cara nge-manage macan-macan lapar di bawah lo, lo bakal dikudeta oleh anak buah lo sendiri.
Khamenei sadar, untuk melindungi revolusinya, dia butuh monster penjaga. Sebuah institusi militer yang loyalitasnya dibeli pakai darah dan monopoli ekonomi. Dan di titik inilah, sang survivor berevolusi menjadi seorang Simbol Politik yang mengendalikan perusahaan bersenjata terbesar di Timur Tengah: Garda Revolusi Islam (IRGC). Dan kita saksikan hari hari ini, IRGC menunjukkan kemampuan survivor dan menghapus syaraf ketakutan pada otaknya.
Iran di kepung AS, Israel, dan negara negara teluk, terbaru Inggris, Jerman dan Perancis terlibat dengan alasan defensif. Iran tidak mundur, menolak tawaran rundingan dari Trump si Raja Porno.


