Widget HTML #1


Sejarah Politik “Divide and Rule” Inggris di Dunia Islam

Istilah “divide and rule” (pecah belah dan kuasai) sering dikaitkan dengan strategi kolonial yang digunakan oleh kekuatan Eropa, termasuk , ketika memperluas pengaruhnya di wilayah Muslim pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Strategi ini tidak selalu berarti menciptakan konflik baru, tetapi sering memanfaatkan perbedaan yang sudah ada—baik etnis, suku, maupun mazhab—untuk mempermudah pengaruh politik dan kontrol wilayah.

1. Masa Persaingan Imperium (Abad ke-19)

Pada abad ke-19, Inggris bersaing dengan dalam perebutan pengaruh di Asia Tengah dan Timur Tengah. Persaingan ini dikenal sebagai .

Untuk melindungi jalur menuju India—koloni terpenting Inggris—London berusaha mempengaruhi berbagai kelompok lokal di kawasan Muslim, termasuk di Persia, Afghanistan, dan wilayah Arab.

Dalam konteks ini, perbedaan mazhab atau suku sering menjadi faktor yang digunakan untuk membangun aliansi politik.

2. Melemahkan Kekuasaan Utsmaniyah

Menjelang runtuhnya kekuasaan , Inggris dan sekutunya berusaha memanfaatkan ketidakpuasan kelompok-kelompok lokal.

Salah satu peristiwa penting adalah , ketika sebagian pemimpin Arab memberontak terhadap pemerintahan Ottoman dengan dukungan Inggris.

Tokoh seperti terkenal karena perannya dalam menjalin hubungan dengan pemimpin Arab selama pemberontakan tersebut.

Peristiwa ini sering disebut sebagai contoh bagaimana kekuatan Barat memanfaatkan dinamika internal dunia Islam untuk tujuan geopolitik.

3. Pembagian Wilayah Timur Tengah

Setelah Perang Dunia I, Inggris dan Prancis menandatangani , yang membagi wilayah bekas Ottoman di Timur Tengah.

Perjanjian ini menghasilkan pembentukan banyak negara modern di kawasan tersebut, seperti:

Pembentukan batas negara baru sering tidak mengikuti garis etnis atau mazhab secara jelas, sehingga menciptakan ketegangan politik yang bertahan hingga hari ini.

4. Pengaruh dalam Politik Mazhab

Sebagian peneliti berpendapat bahwa kekuatan kolonial terkadang memperkuat perbedaan antara komunitas Sunni dan Syiah untuk menjaga keseimbangan kekuasaan lokal.

Namun penting dicatat bahwa konflik mazhab sendiri sudah ada jauh sebelum era kolonial. Intervensi kolonial sering kali hanya memperumit atau memanfaatkan konflik yang sudah berlangsung.

5. Warisan hingga Masa Kini

Warisan politik kolonial masih terasa dalam dinamika Timur Tengah modern. Rivalitas antara negara seperti:

sering dipahami sebagian analis sebagai kombinasi antara persaingan geopolitik, identitas mazhab, dan warisan sejarah kolonial.

Karena itu, istilah seperti “Sunni Amerika” atau “Syiah Inggris” muncul dalam retorika politik modern untuk menggambarkan kelompok yang dianggap berada di bawah pengaruh kekuatan asing.

Kesimpulan

Strategi divide and rule yang dikaitkan dengan Inggris tidak sepenuhnya menciptakan perpecahan baru, tetapi sering memanfaatkan perbedaan yang sudah ada untuk tujuan politik. Warisan dari kebijakan tersebut masih mempengaruhi dinamika politik dan identitas di dunia Islam hingga sekarang.