Widget HTML #1


Sabrina Gonzalez Pasterski

Di Antara Fakta, Teori, dan Mitos “Einstein Baru”

Di tengah budaya digital yang gemar melahirkan tokoh jenius instan, nama Sabrina Gonzalez Pasterski sering muncul sebagai anomali. Ia disebut “The Next Einstein”, dikisahkan menolak miliaran dolar, menjauhi media sosial, dan memilih mengurung diri demi menguak rahasia terdalam alam semesta. Kisahnya menyebar luas di media sosial, sering kali tanpa jeda antara fakta dan fiksi.

Namun, siapa sebenarnya Sabrina Pasterski jika dilihat dari kacamata sains dan verifikasi?

Dari Chicago ke Pusat Fisika Dunia

Sabrina Gonzalez Pasterski lahir di Chicago pada 3 Juni 1993. Minatnya pada sains dan teknik muncul sejak usia dini, terutama pada dunia penerbangan. Pada masa remaja, ia membangun sebuah pesawat mesin tunggal dari kit di garasi rumahnya dan menerbangkannya sendiri. Fakta ini tercatat dan terdokumentasi dengan baik, meski detail-detail dramatis yang sering beredar—jumlah baut, heroisme ekstrem—lebih banyak berasal dari narasi populer ketimbang laporan akademik.

Prestasi awal ini membuat namanya dikenal di lingkungan teknik dan fisika. Ia kemudian diterima di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Menariknya, Sabrina memang sempat tidak langsung diterima secara mulus—ia pernah masuk daftar tunggu. Namun, setelah menjalani studi, ia lulus dengan capaian akademik yang sangat tinggi dan termasuk yang terbaik di jurusannya.

Ia melanjutkan pendidikan doktoralnya di Harvard University dalam bidang fisika teoretis, lalu menjalani posisi postdoctoral di Princeton University. Saat ini, ia berafiliasi sebagai peneliti di Perimeter Institute for Theoretical Physics, Kanada—sebuah pusat riset elite yang dikenal fokus pada pertanyaan paling fundamental dalam fisika modern.

Apa yang Sebenarnya Ia Teliti?

Berbeda dengan gambaran populer seolah ia “memecahkan rahasia alam semesta”, riset Sabrina berada pada wilayah yang lebih spesifik, teknis, dan—bagi orang awam—tidak mudah dicerna. Fokus utamanya adalah fisika energi tinggi, struktur simetri ruang-waktu, dan gravitasi kuantum.

Salah satu kontribusinya yang paling sering dikutip adalah keterlibatannya dalam pengembangan teori gravitational memory effect, khususnya varian yang disebut spin memory effect. Secara sederhana, teori ini menyatakan bahwa gelombang gravitasi—riak ruang-waktu akibat peristiwa kosmik seperti tabrakan lubang hitam—dapat meninggalkan perubahan permanen pada struktur ruang-waktu.

Sebelumnya, banyak model menganggap ruang-waktu akan “kembali normal” setelah gelombang gravitasi lewat. Teori memory effect menunjukkan bahwa alam semesta memiliki semacam “ingatan”.

Penting dicatat: ini adalah prediksi teoretis yang kuat dan elegan, bukan fakta eksperimental yang sudah terbukti langsung. Ia merupakan bagian dari upaya kolektif banyak fisikawan, bukan hasil kerja tunggal Sabrina semata.

Stephen Hawking dan Klaim yang Dibesar-besarkan

Nama Stephen Hawking kerap dilekatkan pada kisah Sabrina. Beberapa narasi viral menyebut Hawking “jatuh hati” pada risetnya atau menjadikannya pewaris intelektual. Klaim ini perlu diluruskan.

Yang dapat diverifikasi: Hawking, bersama fisikawan lain, memang tertarik dan mengutip kerangka simetri dan memory effect dalam diskusi tentang gelombang gravitasi dan struktur ruang-waktu. Karya-karya yang melibatkan Pasterski menjadi bagian dari literatur yang lebih luas dalam topik tersebut.

Namun, tidak ada bukti pernyataan personal atau emosional dari Hawking yang mendukung narasi hiperbolik tersebut. Ini adalah contoh klasik bagaimana bahasa ilmiah yang kering berubah menjadi legenda ketika masuk ke media populer.

Menolak Korporasi, Memilih Akademia

Sabrina memang pernah menerima tawaran atau kesempatan dari lembaga besar seperti NASA dan Blue Origin pada masa studinya. Namun, seperti banyak akademisi murni, ia memilih jalur riset fundamental ketimbang industri.

Keputusan bergabung dengan Perimeter Institute bukan tindakan eksentrik, melainkan pilihan yang cukup lazim di kalangan fisikawan teoretis kelas dunia. Institut ini tidak menjanjikan kekayaan instan, tetapi menyediakan kebebasan intelektual—mata uang paling berharga bagi ilmuwan dasar.

Narasi bahwa ia “menolak miliaran dolar” lebih merupakan penyederhanaan dramatis. Yang ia tolak adalah jalur karier tertentu, bukan sekoper emas yang sudah di depan mata.

Tentang Media Sosial dan “Menghilang”

Sabrina dikenal tidak aktif membangun personal branding digital. Ia tidak menjadikan media sosial sebagai panggung utama. Namun, menyebutnya “menghilang sepenuhnya dari internet” juga tidak sepenuhnya akurat. Ia tetap hadir dalam jurnal ilmiah, situs institusi, dan arsip akademik—ruang di mana reputasi ilmuwan sejatinya dibangun.

Dalam dunia sains, ketidakhadiran dari media sosial bukan sikap heroik, melainkan pilihan personal. Banyak ilmuwan besar melakukan hal yang sama tanpa pernah dijadikan mitos.

Antara Inspirasi dan Kultus Jenius

Kisah Sabrina Pasterski menarik bukan karena ia “Einstein baru”, melainkan karena ia mewakili realitas yang jarang disorot: sains maju melalui kerja panjang, teori abstrak, kolaborasi, dan kesabaran ekstrem. Bukan lewat terobosan instan atau figur tunggal yang menyelamatkan dunia.

Ia memang cerdas, berdedikasi, dan berkontribusi nyata. Tetapi justru dengan menempatkannya secara proporsional—tanpa kultus jenius—kita bisa belajar lebih banyak.

Bahwa fokus mendalam pada satu bidang masih mungkin di zaman serba pamer. Bahwa nilai intelektual tidak selalu sejalan dengan popularitas. Dan bahwa sains tidak membutuhkan legenda, melainkan ketekunan.

Dalam dunia yang gemar mencari idola, Sabrina Pasterski barangkali mengingatkan: pengetahuan tumbuh paling subur bukan di bawah sorotan, melainkan di ruang sunyi tempat pertanyaan-pertanyaan besar diajukan dengan disiplin dan kerendahan hati.