Kerangka Kerja Healthcare dan Keamanan Siber
Seorang teman yang memiliki Rumah Sakit menghubungi saya terkait Regulasi Kesehatan dan Kerangka Kerja, Bagaimana sebenarnya harus menjalankan 2 Kerangka Kerja tersebut dalam penerapannya di Jaringan Rumah Sakit yang dimilikinya?. Silakan disimak, pada bagian akhir ada tautan terkait pemetaan klausul dari 2 Kerangka Kerja tsb.
Kerangka Kerja Healthcare dan Keamanan Siber: Dua Wajah Kepatuhan yang Sama
Sekilas, regulasi kesehatan seperti HIPAA dan kerangka kerja keamanan siber seperti ISO 27001 atau NIST Cybersecurity Framework tampak berasal dari dunia yang berbeda. Yang satu berbicara tentang rumah sakit dan data pasien, yang lain tentang sistem informasi, server, dan ancaman digital. Namun jika ditelusuri lebih dalam, keduanya sesungguhnya berangkat dari persoalan yang sama: bagaimana melindungi data sensitif, mengelola risiko, dan membuktikan kepatuhan.
Dalam praktiknya, kepatuhan bukan sekadar soal teknologi, apalagi hanya urusan menulis kode. Kepatuhan adalah gabungan antara pemahaman regulasi, manajemen risiko, tata kelola data, serta kemampuan menyediakan bukti yang dapat diaudit.
Akar Masalah yang Sama
Baik HIPAA maupun ISO 27001 dan NIST CSF menuntut organisasi untuk menjawab pertanyaan mendasar: siapa yang boleh mengakses data, bagaimana akses tersebut dicatat, dan apa yang dilakukan jika terjadi pelanggaran.
HIPAA menyebut data yang dilindungi sebagai Protected Health Information (PHI). Sementara itu, kerangka keamanan siber menyebutnya sebagai information assets. Istilahnya berbeda, tetapi esensinya sama: data tersebut bernilai tinggi, sensitif, dan berisiko besar jika jatuh ke tangan yang salah.
Karena itulah, kedua rezim kepatuhan sama-sama menekankan kontrol akses, pencatatan aktivitas (audit log), dan mekanisme pengawasan yang berkelanjutan.
Kepatuhan Tanpa Bukti Adalah Ilusi
Salah satu kesamaan paling mencolok antara kepatuhan di sektor kesehatan dan keamanan siber adalah ketergantungan pada bukti. Regulasi tidak pernah cukup puas dengan klaim “sistem kami aman”. Yang dibutuhkan adalah dokumentasi, log aktivitas, kebijakan tertulis, dan rekam jejak pengendalian risiko.
Dalam HIPAA, bukti ini menjadi dasar ketika terjadi pelanggaran data dan organisasi harus melapor kepada regulator serta pasien terdampak. Dalam ISO 27001 dan NIST CSF, bukti menjadi penentu dalam audit dan evaluasi berkelanjutan atas sistem manajemen keamanan informasi.
Tanpa bukti yang terdokumentasi, organisasi secara hukum dianggap tidak patuh, meskipun secara teknis sistemnya mungkin aman.
Fokus yang Berbeda, Pola yang Serupa
HIPAA berfokus pada perlindungan privasi pasien, kewajiban pelaporan kebocoran data, serta hubungan hukum dengan pihak ketiga melalui Business Associate Agreement. Artinya, setiap pihak yang menyentuh data pasien ikut memikul tanggung jawab kepatuhan.
Sebaliknya, ISO 27001 dan NIST CSF menekankan pendekatan sistemik: membangun kerangka kerja keamanan yang mencakup deteksi insiden, respons, pemulihan, serta pengelolaan risiko pemasok dan pihak ketiga.
Namun, perbedaan fokus ini tidak mengubah pola dasarnya. Keduanya memandang keamanan dan kepatuhan sebagai proses berkelanjutan, bukan proyek sekali selesai.
Lebih dari Sekadar Checklist
Kesalahan umum dalam banyak organisasi adalah memperlakukan kepatuhan sebagai daftar periksa. Padahal, kepatuhan sejati menuntut pemahaman mengapa sebuah kontrol diterapkan, bukan sekadar bagaimana mengimplementasikannya.
Bagi pengembang sistem dan arsitek teknologi, pemahaman ini menjadi krusial. Ketika seseorang memahami prinsip kepatuhan, ia dapat membangun sistem yang siap memenuhi regulasi lintas industri, baik di sektor kesehatan, keuangan, maupun layanan digital lainnya. Arsitekturnya bisa serupa, yang berbeda hanya pemetaan regulasinya.
Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Pada akhirnya, healthcare compliance dan cybersecurity compliance adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Keduanya bertujuan melindungi data sensitif, mengelola risiko, dan memastikan akuntabilitas melalui bukti yang dapat diuji.
Framework boleh berbeda, istilah boleh beragam, tetapi prinsip dasarnya tetap satu: kepercayaan hanya bisa dibangun melalui sistem yang aman, transparan, dan patuh.


