Keamanan Siber Seperti Ikan Bakar
Kalau Tinggal Tulang, Artinya Sudah Terlambat
Piring putih itu nyaris bersih. Yang tersisa hanya tulang ikan, kepala, dan bekas sambal yang menempel di sana-sini. Ikan bakar itu jelas enak—dimakan sampai habis, tak bersisa. Namun dalam dunia keamanan siber, kondisi “tinggal tulang” justru pertanda buruk.
Sistem yang sudah “dimakan sampai tulang” biasanya baru disadari setelah insiden terjadi.
Saat Sistem Jadi Santapan Empuk
Dalam keamanan siber, peretas tidak datang dengan suara keras. Mereka bekerja pelan, sabar, dan sistematis—mirip orang menikmati ikan bakar dengan tangan.
- Kulit adalah firewall dan perimeter keamanan
- Daging adalah data, aplikasi, dan layanan bisnis
- Tulang adalah sistem inti yang baru terlihat saat semuanya sudah habis
Ketika organisasi baru sadar ada masalah saat server lumpuh atau data bocor, sering kali yang tersisa memang hanya “tulang”.
Mengapa Banyak Sistem Habis Tanpa Disadari?
Banyak organisasi merasa sudah aman karena:
- Antivirus terpasang
- Firewall aktif
- Sertifikat ISO dipajang
Namun keamanan bukan soal ada atau tidak, melainkan apakah dikunyah perlahan tanpa disadari.
Serangan modern jarang frontal. Yang umum justru:
- Kredensial dicuri diam-diam
- DNS dimanipulasi
- API diakses dari jalur yang “terlihat normal”
- Log dihapus perlahan
Seperti ikan di piring: tidak langsung habis, tapi sedikit demi sedikit.
Masalah Terbesar: Baru Bereaksi Saat Tinggal Tulang
Banyak respons keamanan bersifat reaktif:
- Investigasi dilakukan setelah data bocor
- Audit muncul setelah layanan mati
- Patch diterapkan setelah eksploit viral
Padahal, saat itu kerusakan sudah terjadi. Ikan sudah habis. Yang tersisa hanya pembenaran.
Keamanan Siber Seharusnya Dimulai Saat Ikan Masih Utuh
Organisasi yang matang secara keamanan berpikir sebaliknya:
- Deteksi lebih penting dari sekadar proteksi
- Monitoring lebih penting dari checklist
- Respon cepat lebih penting dari sertifikat
Dalam praktik:
- Log dipantau real-time
- Anomali kecil langsung dianalisis
- Akses dibatasi ketat meski “internal”
- Asumsi dasarnya: sistem pasti akan diserang
Pelajaran dari Sepiring Ikan
Gambar piring kosong itu mengajarkan satu hal penting:
Dalam keamanan siber, kalau kamu baru sadar saat tinggal tulang, berarti pertahananmu datang terlambat.
Keamanan bukan soal membuat sistem “tidak bisa dimakan”, tapi memastikan ada yang memperhatikan setiap gigitan.
Karena dalam dunia digital, serangan terbaik bukan yang menghancurkan—
melainkan yang menghabiskan segalanya tanpa disadari.


