Widget HTML #1


Ke Sarang Semut, Ketika Burung Gagak Merawat Tubuhnya

Di suatu sudut tanah yang nyaris tak diperhatikan, seekor gagak turun perlahan. Ia tidak sedang mencari makan. Ia tidak pula terancam. Dengan gerakan terukur, burung hitam itu merentangkan sayapnya, mengatur bulu-bulunya, lalu diam. Beberapa detik kemudian, semut-semut mulai merayap di tubuhnya. Dari kejauhan, pemandangan ini tampak ganjil. Namun bagi dunia sains, inilah sebuah perilaku yang sudah lama dicatat: anting.

Anting adalah perilaku yang telah diamati pada lebih dari 200 spesies burung, termasuk gagak, jay, burung pipit, hingga jalak. Burung dengan sengaja berinteraksi dengan semut, baik dengan membiarkan semut merayap di tubuhnya maupun dengan mengambil semut satu per satu dan menggosokkannya ke bulu. Perilaku ini bukan kebetulan, melainkan pola yang berulang dan konsisten.

Para peneliti membedakan anting ke dalam dua bentuk. Pertama, passive anting, ketika burung berbaring atau berdiri di dekat koloni semut dan membiarkan semut bergerak bebas di antara bulu-bulunya. Kedua, active anting, yang lebih mencolok: burung memegang semut dengan paruhnya, terkadang meremasnya terlebih dahulu, lalu menggosokkannya ke bagian tubuh tertentu seperti bawah sayap atau pangkal leher.

Mengapa semut? Banyak spesies semut memiliki mekanisme pertahanan berupa sekresi kimia, terutama asam format (formic acid). Dalam narasi populer, zat ini sering disebut sebagai “disinfektan alami” yang mampu membunuh parasit, jamur, dan bakteri pada tubuh burung. Gambaran ini memikat. Seekor burung, tanpa pengetahuan kimia, memanfaatkan senjata biologis serangga lain untuk merawat tubuhnya.

Namun, sains berjalan lebih hati-hati.

Penelitian memang menunjukkan bahwa asam format memiliki sifat antimikroba dan insektisida dalam konsentrasi tertentu. Tetapi ketika diuji dalam konteks alami—yakni jumlah asam yang dilepaskan semut saat anting—hasilnya tidak selalu meyakinkan. Beberapa studi eksperimental menemukan bahwa konsentrasi asam format dari semut belum tentu cukup kuat untuk secara signifikan mengurangi parasit atau mikroorganisme pada bulu burung.

Artinya, anting mungkin membantu, tetapi tidak bisa dengan pasti disebut sebagai “obat” dalam pengertian medis manusia.

Di sinilah diskusi ilmiah menjadi menarik. Jika bukan semata-mata untuk membunuh parasit, lalu apa fungsinya?

Salah satu hipotesis kuat menyebutkan bahwa anting berfungsi sebagai bagian dari perawatan bulu (feather maintenance). Bulu burung dilapisi minyak alami dari kelenjar uropigial yang penting untuk fleksibilitas dan perlindungan. Semut dan zat kimianya mungkin membantu membersihkan sisa-sisa minyak lama atau zat asing yang mengganggu struktur bulu.

Hipotesis lain bahkan lebih pragmatis: persiapan makanan. Pada beberapa spesies, seperti blue jay, burung melakukan anting lalu memakan semut tersebut. Proses ini diduga bertujuan untuk “menetralkan” senjata kimia semut sebelum dikonsumsi. Dalam konteks ini, anting bukanlah pengobatan, melainkan dapur kecil portabel.

Ada pula dugaan bahwa anting memberi efek sensori—mengurangi rasa gatal atau iritasi, terutama saat burung mengalami rontok bulu atau pertumbuhan bulu baru. Bukti langsung masih terbatas, tetapi pengamatan lapangan mendukung kemungkinan ini.

Yang pasti, anting bukan perilaku acak. Burung tidak berguling sembarangan di tanah. Mereka memilih jenis semut tertentu, sering kali semut yang memang menghasilkan zat kimia aktif. Mereka juga menargetkan bagian tubuh tertentu. Ada pola, ada konsistensi.

Namun, penting untuk menempatkan kekaguman kita pada porsinya. Burung gagak tidak “memahami” kimia dalam arti manusia. Tidak ada konsep farmasi, tidak ada niat terapeutik yang disadari. Yang ada adalah hasil panjang evolusi: perilaku yang bertahan karena memberi manfaat, entah besar atau kecil.

Dalam lanskap media sosial, anting kerap disederhanakan menjadi kisah “burung yang berobat ke apotek alam”. Kisah itu indah, tetapi berisiko menyesatkan. Ilmu pengetahuan justru menunjukkan sesuatu yang lebih menarik: alam tidak selalu bekerja dengan kepastian tunggal. Satu perilaku bisa memiliki banyak fungsi sekaligus, sebagian masih menjadi teka-teki.

Anting mengajarkan kita untuk berhati-hati membedakan antara fakta, hipotesis, dan romantisasi. Ia nyata, ia disengaja, tetapi belum sepenuhnya kita pahami.

Seekor gagak yang diam di atas sarang semut bukanlah metafora kesadaran medis. Ia adalah potret kecerdasan biologis yang lahir dari seleksi alam, bukan dari niat. Dan justru di situlah letak keindahannya: pengetahuan tanpa kata, diwariskan lewat tubuh dan kebiasaan, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ia tidak menyebutnya obat.

Sains pun belum sepenuhnya sepakat.

Namun perilaku itu tetap berlangsung—sunyi, presisi, dan setia pada logika alam.