Widget HTML #1


Datang ke Wawancara Tanpa Tahu Perusahaan

Fenomena Ayam Masuk KFC

Sebuah meme beredar luas di media sosial. Seekor ayam tampak berjalan santai menuju restoran KFC. Di bagian tengah gambar tertera tulisan: “When you know absolutely nothing about the company but still go to the interview.” Sederhana, absurd, dan lucu. Namun di balik kelucuannya, meme itu menyimpan kritik tajam terhadap satu fenomena yang kian lazim di dunia kerja modern: kandidat datang ke wawancara tanpa mengenal perusahaan yang dilamarnya.

Dalam bahasa yang lebih blak-blakan, meme itu menggambarkan ketidaksadaran. Seekor ayam tak memahami bahwa KFC bukan sekadar bangunan dengan logo merah, melainkan tempat ayam diolah, dijual, dan dimakan. Analogi ini paralel dengan pelamar kerja yang melangkah ke ruang wawancara tanpa mengetahui apa pun tentang bisnis, nilai, atau bahkan posisi perusahaan tersebut dalam industrinya.

Wawancara yang Kehilangan Makna

Dalam praktiknya, wawancara kerja idealnya merupakan dialog dua arah. Perusahaan menilai kandidat, dan kandidat menilai perusahaan. Namun yang sering terjadi, wawancara direduksi menjadi formalitas sepihak: pelamar berharap diterima, perusahaan berharap menemukan tenaga kerja yang “siap pakai”.

Ketika kandidat tidak melakukan riset dasar—tentang visi perusahaan, produk utama, model bisnis, atau budaya kerja—dialog itu kehilangan substansi. Pertanyaan pewawancara seperti “Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan kami?” dijawab dengan kalimat generik, hafalan, atau bahkan kebisuan. Pada titik itu, wawancara berubah menjadi ujian kesiapan mental, bukan kecocokan profesional.

Ironisnya, banyak pelamar merasa kegagalan itu semata karena “standar perusahaan terlalu tinggi”, bukan karena kurangnya persiapan.

Akar Masalah: Pasar Kerja yang Tertekan

Fenomena “ayam masuk KFC” tidak lahir di ruang hampa. Tekanan ekonomi, minimnya lapangan kerja, dan budaya mass applying membuat banyak pencari kerja melamar ke puluhan, bahkan ratusan perusahaan sekaligus. CV dikirim otomatis, deskripsi lowongan dibaca sepintas, dan riset perusahaan dianggap kemewahan.

Di sinilah logika bertahan hidup mengambil alih logika profesionalisme. Bagi sebagian pencari kerja, yang penting adalah “dipanggil dulu”. Soal cocok atau tidak, dipikir belakangan.

Namun pendekatan ini menyimpan risiko besar. Kandidat yang tidak memahami perusahaan berpotensi masuk ke lingkungan kerja yang tidak sesuai nilai, ekspektasi, atau kapasitasnya. Akibatnya, tingkat stres tinggi, konflik meningkat, dan angka resign dini pun melonjak.

Perspektif Perusahaan: Sinyal Bahaya

Dari sudut pandang perekrut, kandidat yang tidak mengenal perusahaan bukan sekadar “kurang persiapan”, melainkan sinyal risiko. Ia menunjukkan minimnya rasa ingin tahu, rendahnya komitmen, dan kecenderungan bekerja secara reaktif.

Banyak HR profesional sepakat: keterampilan teknis bisa dilatih, tetapi sikap dan niat sulit dibentuk. Kandidat yang meluangkan waktu memahami perusahaan dipandang memiliki ownership sejak awal—modal penting di era kerja yang menuntut adaptasi dan kolaborasi.

Dalam konteks ini, meme ayam dan KFC bukan hanya lelucon, melainkan peringatan.

Literasi Karier yang Masih Rendah

Masalah mendasarnya adalah literasi karier. Banyak orang diajarkan cara menulis CV, tetapi tidak diajarkan cara membaca perusahaan. Kita fasih menjual diri, tetapi gagap menilai tempat kita bekerja.

Padahal riset perusahaan tidak selalu rumit. Membaca laman resmi, laporan tahunan, berita media, atau sekadar memahami produk yang dijual sudah cukup memberi konteks. Langkah sederhana ini dapat mengubah wawancara dari sekadar “tes” menjadi percakapan setara.

Lebih jauh, pemahaman ini melindungi kandidat dari eksploitasi—jam kerja berlebihan, budaya toksik, atau janji karier yang tidak realistis.

Dari Meme ke Cermin Sosial

Kekuatan meme terletak pada kemampuannya menyampaikan kritik kompleks lewat humor visual. Ayam yang melangkah ke KFC adalah cermin kita semua—terutama di dunia kerja yang serba cepat dan kompetitif. Ia mengingatkan bahwa ketidaktahuan bukan selalu lucu; kadang ia mahal harganya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, persiapan mungkin terasa seperti beban tambahan. Namun justru di situ nilainya. Mengenal perusahaan sebelum wawancara bukan soal menghafal profil, melainkan soal menjaga martabat profesional dan arah hidup.

Jangan sampai kita tersenyum melihat ayam masuk KFC, lalu tanpa sadar melakukan hal yang sama—dengan jas rapi, CV tebal, dan masa depan yang dipertaruhkan.