Hari ini, Senin tanggal 5 September 2011 adalah hari pertama saya sekolah (lagi). Nawaitu Bismillah semoga Allah SWT me-ridhoi apa yang saya lakukan ini.
Sekolah kali ini memerlukan waktu normal 6 (enam) semester yang terdiri dari 28 SKS riset (penelitian) dan 12 SKS MK Pilihan, dari 10 bidang penelitian yang ditawarkan ada 2 bidang penelitian yang menjadi minat saya, yaitu: Intellegent System dan Computer Engineering. Penentuannya di lihat situasi pada 1(satu) bulan ini.
Pagi ini berencana menjelajah internet untuk mencari resources baru untuk di index agar mudah mendapatkan gagasan baru. Tetapi mendapatkan “A blessing in disguise“. Artikel bagus buat kita yang berlomba-lomba mencari ilmu.
Manusia diciptakan oleh Allah tiada lain kecuali hanya untuk beribadah kepadaNya. Untuk dapat melaksanakan tugas itu sebagai bentuk pengabdiannya, Allah tidak membiarkannya tanpa bekal. Allah melengkapinya dengan akal agar bisa memahami semua petunjuk dan ciptaanNya. Ia menjadikan akal terbuka untuk mengetahui berbagai masalah, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Melalui ilmu pengetahuan, manusia mampu memahami berbagai masalah kehidupan dan mencari solusinya. Karena itu, malaikat dan seluruh makhluk penghuni langit diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Adam, nenek moyang manusia, karena dia telah diberi akal. Semuanya sujud kepada Adam, kecuali Iblis yang sombong. Penghormatan Islam terhadap akal adalah sebuah keniscayaan, sebab akal merupakan sumber pengetahuan.
Melalui al Qur’an, Islam mengajak umatnya untuk mendayagunakan akal pikirannya, memperoleh petunjuk dengan berkreativitas dan bekerja keras sehingga hidup menjadi lebih bermakna. Sebaliknya, jika akal yang telah diberikan itu tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, hidup manusia akan berjalan seolah tanpa kekuatan dan pegangan. Itu sebabnya, karena berbekal akal, maanusia diangkat derajatnya oleh Allah sebagai makhluk terbaik yang pernah diciptakan. Menurut Imam Ghazali, akal merupakan karunia Allah yang luar biasa. Sebab, akal — walau punya keterbatasan — merupakan sumber ma’rifat (pengetahuan).
Melalui akal, manusia bisa hidup lebih baik dan bermartabat. Karena demikian pentingnya fungsi akal bagi kehidupan manusia, Allah mengulang kata ‘al aqlu’ dalam al Qur’an yang bertebaran dalam berbagai ayat sedikitnya sebanyak lima puluh kali. Dalam khasanah kebahasaan, pengulangan bisa diartikan sebagai tingkat kepentingan makna kata yang diulang tersebut. Artinya, semakin banyak kata diulang, semakin penting arti kata tersebut. Selain kata ‘al aqlu’, kata ‘ulul albaab’ juga mengalami pengulangan berkali-kali. Itu semua menyiratkan suatu seruan yang kuat agar manusia mau menggunakan akalnya dalam memahami semua fenomena kehidupan dengan berbagai misterinya untuk memperoleh manfaatnya yang pada akhirnya dapat mengagumi semua ciptaan Allah serta tak satu pun ciptaanNya sia-sia.
Jika akal adalah alat berpikir dan memahami semua ciptaan Allah, maka hakikatnya orang yang tidak mau menggunakan akal, sehingga menjadi bodoh dan terbelakang, berarti dia telah berbuat sia-sia karunia Allah yang sangat agung itu. Karena itu, berpikir dengan menggunakan akal merupakan kewajiban islami yang mesti dilakukan oleh siapa saja yang mengaku Islam. Keimanan seseorang bahkan tidak akan sempurna jika tidak disertai dengan pengetahuan melalui akal pikirannya. Itu sebabnya, Allah sampai menyebut orang yang tidak memanfaatkan akalnya sebagai ‘al an’aam’, yang artinya binatang ternak.
Mengapa sebutan Allah demikian keras bagi orang-orang yang tidak menggunakan akal pikirannya? Sebab, dia dianggap telah mengabaikan alat pemisah antara kebenaran dan kebathilan, kebaikan dan keburukan, kejujuran dan kebohongan, petunjuk dan kesesatan, dan keduniaan dan keakhiratan, Bisa dibayangkan bagaimana jika di dunia ini tidak ada pemilahan yang jelas antara yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang sesaat dan abadi, dan sebagainya. Pasti kacau kan?
Sang ustadz masih melanjutkan bahwa selain akal sebagai sumber ma’rifat, masih ada lagi sumber ma’rifat yang lain, yaitu ma’rifat pengindraan, dan ma’rifat khabar (berita). Ma’rifat pengindraan diperoleh lewat penglihatan dan pendengaran. Selanjutnya ma’rifat ini diolah oleh akal manusia untuk dipahami. Karena itu, tanpa akal, selengkap apapun ma’rifat indrawi tersebut, tidak banyak bermakna.
Sang ustadz pun menutup acara pengajian dengan sekali lagi menekankan pentingya umat Islam memanfaatkan anugerah Allah swt yang agung berupa akal dalam kehidupan sehari-hari. Agar akal itu tumbuh dan berkembang, maka pintunya utamanya adalah pendidikan. Karena itu, bagi orang Islam belajar dan menunut ilmu merupakan kewajiban yang mesti ditunaikan. Saya pun menyimpulkan bahwa orang belajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai S1, dilanjutkan ke S2, dan bahkan S3 tidak saja merupakan tuntutan akademik agar manusia semakin pandai dan cerdas, tetapi lebih dari itu merupakan kewajiban. (Prof. Mudji)
Popularity: 2% [?]